"Dan yang menempati posisi kedua atau yang mendapatkan peringkat kedua yaitu........."
wali kelas ku menggantungkan pembicaraannya kemudian melihat ke sekeliling kelas sambil tersenyum. Aku pun gelisah, menanti siapa kah yang menempati posisi itu, nama aku sendiri pun belum dipanggil sama wali kelas ku.kemudian wali kelas ku pun melanjutkan pembicaraannya yang ditunda tadi,,
"yaituuuuu DINDA"
Aku serasa ga percaya, kalo aku yang dapet peringkat kedua, seneng banget. Aku memang ga terlalu spesial mungkin di hadapan teman-temanku dan juga ga terkenal di sekolah ku. Tapi dengan sedikit kemampuanku, aku berusaha ingin menghasilkan yang terbaik dan mempersembahkannya untuk orang-orang yang aku sayang terutama kedua orang tuaku.Meskipun aku tidak jadi orang yang pertama, tapi buatku ini semua sudah lebih dari pada cukup. Dan tentunya aku harus meningkatkannya lagi.
"Dinda, silahkan maju ke depan kelas"kata wali kelas.
Aku pun mengikuti perintah ibu wali kelas. Aku ke depan kelas untuk menerima buku raport ku. Kemudian wali kelas pun melanjutkan kembali buat mengumumkan juara kelas, kelas 1B ini.
"Dan juara kelas 1B ini adalah................"
ibu wali kelas pun kembali menggantungkan pembicaraannya. dan siapakah orang berutung itu,.....................
"JATNIKA,,selamat untuk jatnika dan silahkan untuk maju ke depan kelas"
Wah memang benar dugaanku, memang orang sombong itu lah yang menempati posisi pertama, tapi setidaknya aku hanya satu tingkat dibawah dia, dan ga ada alasan lagi buat dia meremehkan kemampuan aku. Karena yang aku tangkap selama ini, tatapan mata dia seolah-olah memandang rendah kepadaku.
Selesai membagikan buku raport semua siswa, ibu wali kelas pun meninggalkan kelas. Dan disaat aku lagi ngobrol dengan teman-temanku tiba-tiba ada yang menepuk pundaku seraya berkata
"Selamat yaa din, ternyata kamu memang hebat"
"Oh iya makasih, kamu lebih hebat"balasku.
"Lho ko jawabnya ketus gitu sih din, ada yang salah denganku"tanyanya
"Ohh mungkin, tapi sepertinya kamu memang selalu merasa paling benar"jawabku semakin ketus
"Aneh banget sihh, aku ngucapin selamat sama kamu ko jawaban kamu gitu. Apa aku punya salah, kalo memang aku punya salah aku minta maaf"dia meminta maaf dengan tulus sambil tersenyum. Aku bisa melihat ketulusannya dari tatapan matanya. Dan aku pun berusaha tersenyum dan menerima permintaan maaf darinya
"Mungkin selama ini kamu ga sadar dengan sikapmu sama aku kayak gimana, selama ini sepertinya aku dianggap ga ada di kelas ini sama kamu. Bahkan disaat aku mau pinjam buku kamu pun, kamu ga pernah mengijinkannya. Tapi ya udah lah yaa,,semuanya udah berlalu. Aku juga minta maaf kalo sikap aku juga kayak tadi ke kamu"
Akhirnya kita saling berjabat tangan. Dan semenjak itu kita pun mulai dekat dan semakin dekat.